Sejarah Desa

Makam Mbah Rante Kencono Wulung
Makam Mbah Rante Kencono Wulung Desa Pekalongan Kecamatan Winong Kabupaten Pati
Makam Mbah Rante Kencono Wulung Desa Pekalongan Kecamatan Winong Kabupaten Pati
Makam Mbah Rante Kencono Wulung

Makam Mbah Rante Kencono Wulung Desa Pekalongan Kecamatan Winong Kabupaten Pati

Dalam kepustakaan sejarah, ada dua teori terbentuknya suatu desa. Pertama, seorang raja mengutus punggawa atau kerabat kerajaan untuk mendiami daerah yang belum berpenghuni untuk ditempati dan dibangun menjadi suatu daerah teritori yang kemudian diberi nama, dan jadilah sebuah desa. Perutusan ini bisa karena ‘perintah dinas’ dari sang raja dalam rangka perluasan wilayah kerajaan, dan dapat pula sebagai sebentuk ‘hadiah’ atas prestasi sang punggawa. Kedua, seorang tokoh berasal dari lingkungan kerajaan yang melarikan dan mengsingkan diri akibat dari kekalahan dalam perebutan kekuasaan. Tokoh ini biasanya sengaja memutus hubungan politik maupun hubungan kekerabatan dengan keluarga keraton, yang kemudian mendiami suatu kawasan yang jauh dari pusat kekuasaan dan lambat laun terbentuklah suatu kawasan yang disebut desa.

Dari kedua teori tersebut berimplikasi adanya dua sumber sejarah terbentuknya suatu desa. Desa yang dibangun oleh tokoh yang mendapatkan mandat dari keraton memiliki sumber sejarah berbentuk karya-karya akademik, sedangkan desa yang dibangun oleh tokoh yang mengasingkan diri, sumber sejarahnya lebih banyak berbentuk bahasa tutur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hingga saat ini belum ditemukan naskah sejarah yang memuat asal-usul berdirinya desa Pekalongan yang ditulis secara akademik. Satu-satunya ‘dokumen’ yang memiliki kaitan dengan terbentuknya desa Pekalongan, pertama kali ditulis oleh Bapak Syahruman Jauhar pada tahun 2003. Meskipun ‘dokumen’ ini pun bersumber dari bahasa tutur, namun dokumen ini sangat berarti sebagai sumber ‘sejarah’ tertulis asal usul desa Pekalongan.

Sekurangnya terdapat dua versi terbentuknya desa Pekalongan. Versi pertama – bukan menunjukkan kronologi dengan versi kedua – menuturkan: terbentuknya desa Pekalongan tidak dapat dilepaskan dari tokoh yang pertama kali mendiami kawasan yang kemudian disebut desa Pekalongan. Penuturan sesepuh, ada lima bersaudara, yang salah satunya sebagai pendiri desa Pekalongan. Ketima bersaudar itu ialah:

  1. Ki Ageng Tulungagung, tinggal di puncak gunung Tulungagung Jawa Timur. Tempat tinggalnya tersebut sekarang dikenal sebagai situs pertapaan Janoko. Menurut penuturan, tokoh ini hilang
  2. Ki Ageng Tunggul Wulung, berdiam di gunung Patiayam, berada di Kecamatan Margorejo Pati.
  3. Ki Ageng Suto Bondo, disebut juga Ki Ageng Suto Djiwo. Tinggal di desa Bondo Kecamatan Mloggo Jepara. Tokoh ini juga dikisahkan hilang
  4. Ki Ageng Citro Kusumo, dikenal dengan Kanjeng Bupati Jepara. Tokoh ini mendapat penghargaan seorang putri Sekar Kedaton dari kerajaan Mataram dan diangkat menjadi Bupati Jepara.
  5. Ki Ageng Rante Kencono Wulung, yang memilih tinggal di daerah yang kemudian dinamai Sidi Puro ( Sidi berarti tempat, Puro berati jaluk pangapuro kepada Allah SWT.). Oleh kakak-kakaknya Ki Ageng Rante Kencono Wulung ditugaskan membantu Ki Ageng Benowo yang tinggal di gunung Morotoko, sekarang masuk desa Watesaji Kecamatan Pucakwangi untuk berdakwah menyebarkan agama Islam.

Menurut cerita yang turun-temurun, orang pertama yang membuka Desa Pekalongan adalah Ki Ageng Rante Kencono Wulung, yang biasa disebut Mbah Rante. Semua tokoh di desa ini sepakat mengenai peranan Mbah Rante tersebut sehingga ia dijuluki waliyyul qoryah (walinya desa). Karena itu, nama Mbah Rante selalu disebut oleh warga desa ini saat memanjatkan doa hajatan (selamatan). Dan, haulnya selalu diperingati setiap tahun. Salah satu kegiatan haul yang sering dilaksanakan adalah kirab budaya Jawa.

Hanya saja, para tokoh desa tidak satu suara mengenai pertanyaan, apakah Mbah Rante mempunyai keturunan. Sebagian berpendapat bahwa nenek moyang warga desa ini adalah Mbah Rante, sementara sebagian yang lain berpendapat bahwa Mbah Rante tidak mempunyai keturunan.

Bagi yang berpendapat mempunyai keturunan, diyakini Mbah Rante mempunyai 4 (empat) anak, yaitu Lambu, Sastro Leksono, Sayyidin dan Sakidin. Keempat orang inilah yang menurunkan generasi hingga sekarang.[2] Sedangkan bagi yang berpendapat tidak mempunyai keturunan, maka ayah dari Lambu, Sastro Leksono, Sayyidin dan Sakidin bukan Mbah Rante, tetapi orang lain. Namun sampai saat ini belum ada penelitian yang menemukan siapa orang lain itu.

Versi kedua dituturkan oleh Bapak Saehan. Dalam versi ini, Ki Ageng Rante Kencono Wulung bernama asli Sonto Wijoyo, biasa dipanggil Hasan Sonto, Kek Sonto. Beliau putra Kyai Wali Said atau Mbah Wali Said, yang sekarang makamnya terdapat di Kota Kediri. Sonto Wijoyo adalah salah satu pejabat keraton Mataram yang mengasingkan diri menjauhi hiruk pikuk kehidupan politik di lingkaran kekuasaan dan mendiami suatu kawasan yang diberi nama Sidi Puro. Misi Sidi diartikan tempat untuk semedi, bertapa, bekhalwat; Puro diartikan minta ampunan dari Allah SWT. Sonto Wijoyo selain menempuh kehidupan zuhud juga untuk berakwah menyebarkan agama Islam di wilayah Pati selatan.

Masih dalam versi kedua, sebutan Ki Ageng Rante Kencono Wulung berasal dari kebiasaan Kek Sonto yang selalu mengenakan tasbih berwarna hitam (wulung), dan karena ukurannya yang relatif besar sehingga menyerupai sebuah rante. Masyarakat kemudian menjulukinya dengan sebutan Ki Ageng Rante Kencono Wulung. Sebutan Ki Ageng dalam masyarakat Jawa diberikan kepada tokoh yang memiliki kharisma peran, dan kiprah dalam kehidupan masyarakat yang sangat besar pengaruhnya. Baik dalam bidang olah kebatinan (spiritual) maupun di bidang ulah kanuragan.

Tasbih berwarna hitam tersebut sering dikenakan seperti kalung (melingkar di leher). Masyarakat luas pun lebih mengenalnya sebagai wong sing gawene kalungan (orang yang mengenakan kalung). Kawasan tempat tinggal sang tokoh kemudian dikenal dengan sebutan Desa kalongan, yang bersal dari kebiasaan sang tokoh mengenakan kalung, atau kalungan. Dalam perkembangan bahasa tutur, kata kalongan bermetamorfose menjadi PEKALONGAN.

Versi lain menuturkan, kawasan pemukiman bernama Sidi Puro yang telah memiliki batas-batas teritorial, “dicuri” oleh tokoh protagonis dengan menggeser tanda (tenger) pembatas areal sehingga luas wilayah Sidi Puro makin lama makin berkurang atau “kalong”. Karena peristiwa ini terjadi berulang, muncullah kata “Kalongan”. Pencuri ini akhirnya konangan (ketahuan) oleh masyarakat Sidi Puro, yang menimbulkan sebutan bagi desa sebelah bernama Karangkonangan.

Facebook Comments